Petani Merapi Tingkatkan Penggunaan Pupuk Organik

Selasa, 19 April 2011 06:53 WIB     
BOYOLALI--MICOM: Petani lereng Merapi di Desa Jemowo, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terus menggalakan penggunaan pupuk organik yang lebih ramah lingkungan.

Sekretaris Desa Jemowo,  Setyo Darmoko, di Boyolali, Senin (18/4) menjelaskan, petani di Desa Jemowo sudah mulai meninggalkan pupuk kimia jenis urea dan beralih ke pupuk organik dari kotoran ternak yang lebih murah serta ramah lingkungan.

"Warga kini mulai mengembangkan produk pupuk organik yang lebih efektif penggunaannya untuk segala jenis tanaman, baik di pegunungan maupun di dataran rendah," katanya.

Menurut dia, pupuk organik yang dikembangkan cukup ramah lingkungan dan menghemat biaya. Karena, pengolahannya tanpa menggunakan mesin, tetapi alat yang digunakan cukup media pengolahan terbuat dari kayu dan bambu.  Ia menjelaskan, petani membuat pupuk dengan memanfaatkan kotoran sapi dan cacing. Caranya   yakni kotoran sapi dicampur dengan cacing, kemudian tinggal diendapkan selama sepekan. Setelah itu, bagian permukaan diambil menjadi pupuk organik. "Pupuk organik ini sebagai nutrisi alami yang cukup ampuh digunakan pemupukan tanaman," katanya.

Menurut dia, produksinya sudah diuji secara klinis di laboratorium, bahwa pupuk tersebut dapat digunakan untuk segala macam tanaman. Ia menjelaskan, kelompok tani desa setempat sudah merintis pupuk organik sejak 2009 hingga sekarang dan produksi sekitar tiga ton per minggu.

Bahkan, petani asal luar daerah sudah mulai memesan produk pupuk organik yang kembangkan oleh petani setempat. Sehingga, petani sangat antusias untuk dikembangkan ke seluruh Jawa Tengah.

Muhamad Yusuf, 45, petani Desa Jemowo yang mengembangkan pupuk organik mengatakan, pupuk ramah lingkungan tersebut baru dikembangkan di wilayah Boyolali, Klaten, dan Yogyakarta. "Kami sudah mendapat pesanan dari kelompok tani di tiga wilayah itu," katanya.

Mengenai kendala yang dihadapi dalam produksi pupuk organik, kata dia, petani setempat mengalami kesulitan soal keterbatasan bahan bakunya. "Soal kotoran sapi tidak masalah, karena banyak peternak sapi. Namun, bahan cacing kesulitan, karena harus mendatangkan dari Bandung," katanya. (Ant/OL-2)
Share this article :

0 komentar:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Seputar kapung HIjau, lingkungan dan pertanian - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger